merah putih
Forum Komunikasi
SMA Negeri 42 Jakarta"
Ya Allah, mudahkanlah bagiku akan ilmu pengetahuan dan segala urusan. Jadikanlah aku orang yang bermanfaat selama didunia ini. Amin.

Usia kita terus berkurang, apa yg harus kita lakukan?

Blog EntryDOKUMENTASI BUKU & FOTO DN AIDIT Apr 26, '08 6:59 PM
by Prabu for everyone

http://www.youtube.com/watch?v=HrSltoB8zP0&NR=1

From: sibentea
Joined: 1 year ago
Videos: 31
Added: August 24, 2007 (More info)

Dipa Nusantara Aidit, lebih dikenal dengan DN Aidit (30 Juli 1923 - 22 November 1965), adalah Ketua Central Comitte Partai Komunis Indonesia (CC-PKI). Ia dilahirkan dengan nama Achmad Aidit di Pulau Bangka, dan dipanggil "Amat" oleh orang-orang yang akrab dengannya. Di masa kecilnya, Aidit mendapatkan pendidikan Belanda.

Ayahnya, Abdullah Aidit, ikut serta memimpin gerakan pemuda di Belitung dalam melawan kekuasaan kolonial Belanda, dan setelah merdeka sempat menjadi anggota DPR (Sementara) mewakili rakyat Belitung. Abdullah Aidit juga pernah mendirikan sebuah perkumpulan keagamaan, "Nurul Islam", yang berorientasi kepada Muhammadiyah.

Menjelang dewasa, Achmad Aidit mengganti namanya menjadi Dipa Nusantara Aidit. Ia memberitahukan hal ini kepada ayahnya, yang menyetujuinya begitu saja.

Dari Belitung, Aidit berangkat ke Jakarta, dan pada 1940, ia mendirikan perpustakaan "Antara" di daerah Tanah Tinggi, Senen, Jakarta Pusat. Kemudian ia masuk ke Sekolah Dagang ("Handelsschool"). Ia belajar teori politik Marxis melalui Perhimpunan Demokratik Sosial Hindia Belanda (yang belakangan berganti nama menjadi Partai Komunis Indonesia).
Dalam aktivitas politiknya itu pula ia mulai berkenalan dengan orang-orang yang kelak memainkan peranan penting dalam politik Indonesia, seperti Adam Malik, Chaerul Saleh, Bung Karno, Bung Hatta, dan Prof. Mohammad Yamin.

Menurut sejumlah temannya, Hatta mulanya menaruh banyak harapan dan kepercayaan kepadanya, dan Achmad menjadi anak didik kesayangan Hatta. Namun belakangan mereka berseberangan jalan dari segi ideologi politiknya.

Meskipun ia seorang Marxis dan anggota Komunis Internasional (Komintern), Aidit mengikuti paham Marhaenisme Sukarno dan membiarkan partainya berkembang tanpa menunjukkan keinginan untuk merebut kekuasaan. Sebagai balasan atas dukungannya terhadap Sukarno, ia berhasil menjadi menjadi Sekjen PKI, dan belakangan Ketua.

Di bawah kepemimpinannya, PKI menjadi partai komunis ketiga terbesar di dunia, setelah Uni Soviet dan RRT. Ia mengembangkan sejumlah program untuk berbagai kelompok masyarakat, seperti Pemuda Rakyat, Gerwani, Barisan Tani Indonesia (BTI), Lekra, dan lain-lain.

Dalam kampanye Pemilu 1955, Aidit dan PKI berhasil memperoleh banyak pengikut dan dukungan karena program-program mereka untuk rakyat kecil di Indonesia. Dalam dasawarsa berikutnya, PKI menjadi pengimbang dari unsur-unsur konservatif di antara partai-partai politik Islam dan militer.

Category: News & Politics
Tags: DN Dipa Nusantara AIDIT Ketua CC-PKI Pemilu 1955 Antara Jakarta Bandung Madiun Surabaya Bangka Belitung Indonesia

URL:  http://dpyoedha.multiply.com/video/item/79/DOKUMENTASI_BUKU_FOTO_Ketua_CC-PKI_DN_AIDIT_




CATATAN EDITOR :
Latar belakang musik yang digunakan oleh pembuat klip ini (sibentea ?) adalah lagu Genjer-Genjer yang jika mendengar suara penyanyinya – boleh jadi, adalah LILIS SURYANI, yang saat itu sekitar tahun 1965 memang pernah merekam lagu tersebut dalam salah satu album piringan hitam dia. Jangan lupa, lagu Genjer Genjer saat itu adalah lagu yang populerm, sebelum di-CHARACTER ASASSINATION sebagai lagu PKI dan GERWANI. (dpy).

mokhnajibsh wrote on Apr 27
CARA-CARA BERPOLITIK

Masalah PKI benar-benar menarik. Sempat beberapa kali Saya membaca buku-buku dan artikel-artikel yang berhubungan dengan "cara-cara berpolitik" dari PKI, yang pada dasarnya bagi Saya adalah sebuah ilmu tentang bagaimana cara-cara berpolitik itu.

Tak akan pernah terlupakan, aksi-aksi yang telah dilakukan oleh PKI pada kurun waktu tahun 1965 bahkan kurun waktu atau tahun-tahun sebelumnya.

Yang akan Saya ulas disini adalah cara-cara berpolitik berupa kegiatan-kegiatan politik yang menghalalkan segala cara bahkan harus menghilangkan nyawa-nyawa lawan-lawan politiknya, demi mencapai suatu tujuan politik. Apakah cara ini konstitusional atau non konstutusinal.

Kembali Saya jelaskan, bahwa Saya sama sekali tidak akan membicarakan masalah-masalah kepartaian, misalkan PKI atau yang lainnya, tapi yang akan Saya ulas dibawah ini adalah "cara-cara berpolitik".

Tentunya cara-cara berpolitik saat ini sangat berbeda dengan cara-cara berpolitik sebelum tahun 1965. Tapi tentunya namanya juga cara berpolitk, pasti ada perbedaan dan ada juga persamaannya.

Kebetulan saa ini Saya salah satu pengurus dan aktifis dari sebuah partai. Kebetulan pada tahun 2004 Saya pernah juga terdaftar sebagai salah satu calon legislatif (caleg) dari partai tersebut. Kebetulan saat ini Saya juga aktif dan bahkan sebagai Ketua dari salah satu Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP) yakni organisasinya putra dan putri dari purnawiran dan putra dan putri dari TNI-POLRI se-DKI Jaya (Jakarta Raya dan sekitarnya), yang meliputi wilayah kerja se-Jakarta, Tangerang, Bekasi dan seharusnya Depok. Dan kebetulan juga Saya pernah menduduki jabatan-jabatan lain di organisasi-organisasi yang lain.

Dengan aktifnya Saya pada organisasi-organisasi diatas, secara tidak langsung Saya juga mengikuti cara-cara berpolitik atau berpolitik praktis sebagai praktisi politik. Sehingga Saya dapat melihat dan bahkan mempraktekan secara langsung cara-cara berpolitik.

Kira-kira dari pengalaman-pengalaman dan hasil-hasil pengamatan Saya diatas, dapat Saya simpulkan 2 (dua) cara-cara berpolitik, yakni cara-cara berpolitik yang positif dan cara-cara berpolitik yang negatif. 2 (dua) cara-cara berpoltik inilah yang pada masa sekarang ini yang sedang terjadi.

Lucu memang kedengarannya, karena sesuai ilmu politik bahwa yang dimaksud dengan politik kecenderungannya adalah lebih kepada cara-cara yang negatif.

Kita akan coba memahami apa itu Politik menurut teori, hal ini bisa kita lihat di situs : http://id.wikipedia.org/wiki/Politik

Politik adalah proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat yang antara lain berwujud proses pembuatan keputusan, khususnya dalam negara. Pengertian ini merupakan upaya penggabungan antara berbagai definisi yang berbeda mengenai hakikat politik yang dikenal dalam ilmu politik.

Politik adalah seni dan ilmu untuk meraih kekuasaan secara konstitusional maupun non konstitusional.

Di samping itu politik juga dapat ditilik dari sudut pandang berbeda, yaitu antara lain:

* politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama (teori klasik Aristoteles)
* politik adalah hal yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemerintahan dan negara
* politik merupakan kegiatan yang diarahkan untuk mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan di masyarakat
* politik adalah segala sesuatu tentang proses perumusan dan pelaksanaan kebijakan publik.

Dalam konteks memahami politik perlu dipahami beberapa kunci, antara lain: kekuasaan politik, legitimasi, sistem politik, perilaku politik, partisipasi politik, proses politik, dan juga tidak kalah pentingnya untuk mengetahui seluk beluk tentang partai politik.

Nah dari uraian diatas, secara teori kita akan semakin lebih mengetahui apa itu yang dimaksud dengan politik.

Kembali ke pokok persoalan bahasan Saya diatas, yakni tentang cara-cara berpolitik. Saya cenderung beranggapan bahwa sebuah politik adalah sebuah seni dan ilmu untuk meraih kekuasaan secara konstitusional maupun non konstitusional (http://id.wikipedia.org/wiki/Politik).

Jika kita bisa perinci lebih jauh maka sebuah politik terdiri dari :

* sebuah seni dan ilmu.
* untuk meraih kekuasaan.
* secara konstitusional maupun non konstitusional.

Dari perincian diatas dan dihubungkan dengan pendapat Saya, maka cara-cara berpolitik sebagaimana yang Saya uraikan diatas dapat dilihat sebagai berikut :

* cara-cara berpolitik yang positif adalah sebuah seni dan ilmu untuk meraih kekuasaan secara konstitusional atau sesuai dengan konstitusi Negara yakni UUD 45 dan perubahannya serta Pancasila.
* cara-cara berpolitik yang negatif adalah sebuah seni dan ilmu untuk meraih kekuasaan secara non konstitusional atau tidak sesuai dengan konstitusi Negara yakni UUD 45 dan perubahannya serta Pancasila.

Nah sekarang bagaimana kita bisa melihat cara-cara berpolitik yang positif dan negatif yang terjadi pada saat ini di masyarakat. Bayak contohnya, namun setelah kita telah dapat membuat kriteria-kriterianya sebagaimana yang telah Saya uraikan diatas, maka kita bisa melihat sendiri, mana-mana saja cara-cara berpolitik yang positif dan negatif yang telah terjadi di masyarakat.

Pada uraian kali ini Saya tidak memberikan contoh-contoh dari hal-hal yang terjadi pada saat ini di masyarakat. Pada tulisan ini Saya hanya memberikan suatu gambaran bahwa pada saat ini di masyarakatpun telah terjadi cara-cara berpolitik yang positif dan negatif. Soal penilaiannya Saya menyerahkan sepenuhnya kepada masyarakat untuk menilainya sendiri, mana-mana saja cara-cara berpolitik yang positif dan negatif.

Demikianlah ulasan Saya, terima kasih mau membacanya, mudah-mudahan tulisan Saya ini juga bisa dijadikan suatu meteri yang dapat didiskusikan, sehingga pemaknaan kita terhadap ilmu politik semakin menjadi lebih berkembang, salam. (Mokhammad Najib, SH. alumni SMAN 42 Tahun 1984).
nirwanalife wrote on Apr 28
semoga siapapun yang membaca artikel dan ulasan mas najib akan semakin cerdas bila menjadi politikus, sebaiknya selalu berada dijalur politik positif, jangan negatif.
Add a Comment
   
SMA Negeri 42 Jakarta
Join this Group!RSS FeedHelp on RSS FeedsAdd to My Yahoo
Report Abuse
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help